Escape Journey to Jogja

Sekarang tanggal 3  Februari 2018 jam 1 pagi terlalu banyak yang saya pikirkan jadi saya memutuskan untuk mulai menulis lagi dan kali ini saya akan menceritakan kisah perdana saya berpergian jauh sendiri. 

Mungkin buat beberapa orang berpergian jauh sendirian sudah menjadi hal biasa namun tidak bagi saya dan menurut saya hal tersebut merupakan sebuah pencapaian yang lumayan di hidup saya yaaa saya sedikit merasa bangga terhadap diri saya karna banyak teman saya yang bilang “yakin lo pergi sendiri ? emang bisa ?” and the answear is “look at what i`ve been done biatj” he he he.

Berawal dari banyaknya hal-hal tidak terduga yang datang kedalam hidup saya di penghujung tahun 2018, lalu membuat saya sangat penat dan sangat membutuhkan liburan untuk sekedar duduk di pinggir pantai melihat deburan ombak,susasana pegunungan atau duduk ditengah kota melihat keramaian  untuk menenagkan diri.  Lalu terpikirkan sebuah tempat yang sangat ingin saya kunjungi lagi karna cinta saya yang besar pada kota ini,Jogja. 

Niat awal saya ingin melarikan diri ke Jogja pada bulan November namun sepertinya Tuhan tidak setuju melihat absensi saya yang semakin banyak,akhirnya setelah segala tetek bengek di semester 5 selesai  barulah saya benar-benar berani melarikan diri.

Kereta saya berangkat pukul 11.20 dari Stasiun Pasar Senen dan sampai di Stasiun Lempuyangan pukul 19.00. Sesampainya di stasiun Lempuyangan langsung teringat dua tahun lalu ketika saya bersama 15 teman saya ke Jogja.  Ternyata semuanya masih sama hanya saja keadaan saya yang berbeda.

Selama di jogja ada sahabat saya yang dengan berbaik hati mau menampung saya namanya Mutya. Saya kira saya akan benar-benar sendiri karna Mutya bilang untuk beberapa hari dia tidak bisa menemani saya di Jogja karna dia sedang ujian,ternyata saya dikenalkan dengan temannya Mutya yang akhirnya menemani saya berpergian di Jogja selama Mutya ujian. Itulah yang saya suka dari Jogja penghuninya sangat baik dan ramah membuat saya bisa cepat akrab dan menyesuaikan diri. 

Seperti yang tadi sudah saya katakan, saya hanya ingin ke pantai,pinggiran jalan malioboro dan suasana pengunungan terutama ke kopi merapi karna tempat tersebut ada dalam film AADC 2 jadi saya bisa berpura-pura menjadi Cinta walaupun tak ada Rangga. 

Tadinya saya hampir nekat ke pantai seorang diri dengan bermodalkan nekat iyaa nekat karna saya tidak punya SIM dan mengingat bahwa saya agak bodoh dalam membaca maps he he he. Tapi sepertinya Tuhan sangat mengerti saya,akhirnya di datangilah seseorang yang dengan senang hati menemani saya berdiam diri di pinggir pantai yang kebetulan saat itu lagi tidak ada pengunjung sama sekali lalu saya menatap ombak,sampai tertidur di atas hammock dan berakhir dengan air mata saya yang menetes entah perasaan apa yang saya rasakan sampai saya meneteskan air mata,mungkin perasaan lega dan segala penat yang akhirnya keluar dari pikiran saya. Sampai akhirnya saya benar-benar bisa tertawa lepas seperti tidak ada beban Saya lupa apa nama pantainya.

                                             
                                                        maaf ya narsis tapi foto ini beneran candid pas saya lagi ketawa lepas

                               

Lalu saya lanjut ke Gumuk Pasir dan lagi-lagi saya takjub dengan keindahan yang Tuhan ciptakan wahh bagus deh pokoknya dengan tidak pikir panjang saya langsung menjatuhkan diri saya kedalam pasir yang menggunung  ternyata pasirnya panas banget,maklum saya memang suka bertingkah bodoh kalau terlalu senang.
gak takut menghitam sih pada saat itu



 Lalu yang  membuat saya sangat senang lagi ternyata ada kebun bunga di depan area Gumuk Pasir. Karna saya adalah pecinta bunga maka tidak pikir panjang saya masuk ke area kebun bunga tersebut hanya dengan Rp 5000,sangat murah kan? Tadinya bunga kesukaan saya adalah bunga mawar semenjak saat itu saya jadi pecinta bunga matahari.


                                                 
                                                              Bagus kan ? saya dan bunganya ? HE HE HE
                                           

Karna saya masih merasa belum puas kalau belum menikmat sunset di pantai lalu saya melanjutkan perjalanan ke pantai Parangtritis dan ParangKusumo untuk menikmat sunset. ada kejadian yang cukup menjadi pelajaran buat saya saaat di pantai parangtritis. Selama di jogja teman saya selalu mengingatkan untuk menjaga tutur kata dan bahasa terlebih saat di daerah pegunungan atau pantai karna dua daerah tersebut masih mempunyai "penjaga".

Niatnya saya mau berfoto di pinggir laut tapi kok ombaknya gak datang juga ke arah saya,maksud saya kalau saya foto lalu di kaki saya ada air bekas ombak akan terlihat bagus,karna kebiasaan buruk saya yang suka asal dalam berbicara lalu keluarlah kalimat "duhh kok airnya gak mau kesini sih,ombaknya kesini dong,gatau apa orang mau foto biar bagus" lalu satu menit kemudia saya masih di tempat yang sama menunggu ombak datang dan omongan saya didengar dan saya langsung dikasih ombak tapi ombak yang cukup besar membuat setengah diri saya basah dan membuat saya ketakutan setelah itu. Hufttt hampir saja saya masih sempat lari kalau tidak..............
Setelah kejadian ombak itu saya berhenti foto-foto lalu duduk dan menikmati senja.
Sungguh pelajaran yang berarti buat saya.
                                          
                                                              Ini masih bisa ketawa-ketawa sebelum ombaknya dateng
                   

Sekian dulu yaa nanti di lain kesempatan saya lanjut lagi ceritanya.
BABAYYYYYYYYYY

Comments